Cerita dari Nusa Penida, Pulau Cantik di Tenggara Tanah Seribu Pura

Waktu pulang kampung kemarin, saya menyempatkan diri untuk singgah di Bali. Pulau Dewata ini memang selalu punya tempat spesial di hati saya (dan saya yakin dalam hal ini saya tidak sendiri). Selain itu, sepupu favorit dan seorang sahabat, Shari, juga tinggal di sana. Sambil menyelam, minum es teh manis 🙂

Saya memutuskan untuk pergi mengunjungi Nusa Penida ditemani oleh Shari. Mungkin kalau ke Penida sekarang ini sudah biasa banget ya buat banyak orang. Basic, mainstream, you name it. Tapi saya boam karena memang sudah lama kepingin. Karena keterbatasan waktu, kami menghabiskan kurang lebih dua hari dua malam di sana.

Transportasi

ke sana

Perjalanan memakan sekitar 45 menit dari Pantai Sanur ke Pelabuhan Banjar Nyuh di Nusa Penida. Dengan menggunakan Angel Billabong Fast Cruise kami pun membayar 175 ribu perak per orang (harga per-Juni 2019) untuk perjalanan PP Sanur-Penida.

Jangan heran kalau selama di kapal banyak orang yang menggunakan pakaian tradisional Bali karena memang Nusa Penida merupakan salah satu tujuan sembahyang umat Hindu di sana. Kata Shari, kadang kapal juga berhenti di tengah laut untuk memberikan persembahan ke dewa-dewi. Meski tidak mengerti, harus tetap dihormati ya!

Pro tip: Sebelum dan selama naik kapal untuk menyeberang Selat Badung, gunakan sepatu tahan air, sandal atau alas kaki yang nggak sayang kalau basah. Di Sanur kapalnya kemungkinan tidak bersandar di dermaga, jadi penumpang harus melewati air laut sebelum masuk ke kapal. Selain itu, lantai kapal juga basah karena cipratan ombak. So, better safe than sorry!

di sana

Setibanya di Nusa Penida, sudah banyak orang yang menawarkan sepeda motor atau skuter untuk disewakan. Seorang bapak langsung mendekati kami dan tanpa pikir panjang, kami pun menyewa motor dari si tersebut dengan harga 70 ribu rupiah per hari dengan bensin yang sudah diisi penuh. Lumayan untuk hari pertama…

Pro tip #1: Kalau mau menyewa motor di Nusa Penida, usahakan untuk mengecek motornya terlebih dahulu sebelum menggunakan. Di beberapa jalanan (seperti dari dan ke Broken Beach) fasilitas penerangannya belum memadai. Dalam perjalanan pulang dari Broken Beach, hari sudah gelap dan kami berpapasan dengan dua perempuan yang sedang berjuang keras untuk melalui jalan ini dengan motor karena tidak ada lampu jalan. Lampu sepeda motornya juga mati. Apes! Yang duduk di belakang berusaha menerangi jalan yang mereka lalui dengan menggunakan lampu senter dari telepon genggamnya.

Pro tip #2: Masih seputar naik motor di Penida. Kebanyakan penyewaan motor di pulau ini tidak menyediakan helm untuk sekaligus disewa. Kalau memungkinkan, bisa bawa helm sendiri dari Bali, atau cari penyewaan motor yang juga memberikan helm ke si penyewa.

Ke mana saja kami selama di NP?

Klingking Beach

Setelah menaruh barang bawaan di homestay dan makan siang, kami pun bergegas menuju Klingking Beach. Ibu di homestay sudah mengingatkan untuk berhati-hati karena jalanan ke sana sedikit berbahaya dan berkelok-kelok.

Waktu kami tiba, parkiran ikon Nusa Penida ini pun sudah dipenuhi oleh banyak wisatawan – baik asing maupun lokal. Thanks Instagram!

And not long after that, I saw it! The statuesque and much-publicised-in-my-social-media-feed-for-the-last-two-years T-Rex cliff, standing tall against different hues of blue. I had a whale of a time.

Kebanyakan pengunjung tidak turun ke pantai mengingat perjalanan yang jauh dan tidak gampang. Saya pun tidak sanggup untuk turun karena kondisi badan yang memang jauh dari kata fit and I have flat feet… Baru setengah jalan, kaki saya rasanya sudah teriak-teriak minta ampun. Salut sih sama mereka yang pakai wedges dan rok tapi tetap turun. Saya KO.

Kegirangan meski cuma sanggup jalan sampai di sini.

Kalau sanggup turun, turunlah. Di bawah lebih indah kelihatannya. Lebih tenang juga karena perbandingan jumlah orang di atas dan di pantai cukuplah signifikan.

Pristine.

Angel’s Billabong dan Broken Beach (Pasih Uug)

Meski sudah memiliki nama tersendiri, kalau kata Shari lokasi ini dan jalan menuju ke sana seharusnya disebut sebagai Broken Road. Kondisi jalannya asli parah sekali! Rusak, kecil, jendal-jendul. Belum lagi kalau malam banyak jalan yang fasilitas penerangannya substandard. Kalau naik motor jalanan menuju dan dari Broken Beach harus hati-hati dan awas, ya!

Saya komat-kamit sepanjang perjalanan di kursi penumpang karena sedikit trauma pernah jatuh dari motor di jalanan berpasir di Bali. Tapi untungnya kami selamat dalam perjalanan menuju dan pulang dari tempat ini. Tentu hal tersebut tidak akan mungkin tanpa kepiawaian Shari dalam menunggang sepeda motor.

Saya akui tempatnya memang keren! Sisi positifnya…. karena kami ke sana pada sore hari lokasinya jadi tidak begitu padat pengunjung.

Shari’s silhouette

Air di tempat pemandian malaikat (alias Angel’s Billabong) cukup jernih dan pengunjung pasti bisa melihat tekstur di bagian dasar. Ketika kami turun ke “kolam” bidadari ini, kami disambut oleh abang-abang yang tugasnya mengingatkan pengunjung untuk tidak berdiri terlalu dekat dengan bibir kolam karena ombak besar bisa tiba-tiba datang dan menyeret kamu entah ke mana. Saya tidak tahu apakah si abang ini memang ditugaskan oleh desa setempat untuk “jaga”, but either way I don’t mind. Apalagi si abang ini mau sukarela untuk mengambil foto dan memberikan saran di bagian mana saja fotonya akan terlihat oke!

Antara Angel’s Billabong dan Broken Beach.

Selesai berendam sejenak di Angel’s Billabong, Shari dan saya bergegas ke Broken Beach. Kami juga tidak berlama-lama di sana karena hari hampir malam.

Broken but beautiful *duileh*

Snorkeling di Manta Bay, Crystal Bay, Gamat Bay dan Toya Pakeh

Di hari ke-dua, kami pergi snorkeling dengan tujuan utama untuk melihat manta rays. Saya sudah excited sekali. Apa daya, kami kurang beruntung! Namanya juga alam, kadang tidak bisa diprediksi. Atau abang-abang travelnya yang kurang jujur dan sebenarnya memang sudah beberapa hari tidak ada manta yang kelihatan? Entah lah. Ingin ketemu mola-mola juga tapi sepertinya waktu itu memang belum musimnya.

Kami dan pengunjung lainnya pun sedikit kecewa ketika berpindah ke spot kedua. Kalau dipikir-pikir, kejadian ini membuat para peserta tur hari itu malah jadi kompak. Ada kepentingan bersama yang membuat kami memiliki bahan omongan.

Persis setelah snorkeling di Crystal Bay, kami melihat beberapa lumba-lumba yang sedang berenang meliuk-liuk di dekat kapal kami. Bagaimana tidak senang? Melihat lumba-lumba tidak termasuk dalam itinerary kami. “Nahkoda” bot kami bahkan sempat menyetir bot untuk mengikuti gerombolan mamalia laut ini karena terbawa suasana.

Oh ya, selama snorkeling dari pagi sampai siang, saya memang sengaja tidak mengambil gambar karena ingin menikmati suasana dan tidak ingin pusing menjaga kamera agar tidak basah. Jadi fotonya tidak ada 😀

Pantai Atuh

Kalau jalanan ke Angel’s Billabong dan Broken Beach merupakan Broken Road, jalanan ke Atuh Beach ini bisa dibilang mulus sekali dan pemandangannya sangat dreamy! Selain pemandangan hutan, lautan juga terlihat di kejauhan. Tapi tetap harus berhati-hati karena jalannya berbukit-bukit dan berkelok-kelok serta terdapat banyak tikungan yang tajam.

Lagi-lagi, kami tidak turun sampai ke bawah karena kaki saya rasanya seperti ditusuk-tusuk seribu jarum. Jadilah kami hanya menikmati pemandangan Atuh Beach dari atas ditemani langit yang mendung dan gelap, sambal bercerita tentang hidup dan perjuangan *tsaaahh!*

Pantai Atuh. Mendung. Tak berarti hujan.

Tempat Menginap

M&J Homestay. Saya mention meskipun bukan tulisan berbayar karena pengalaman kami yang sangat positif tinggal di sini 🙂

Lokasinya yang tak dekat dengan pelabuhan yang membuat tempat penginapan ini semakin menarik bagi saya. Jauh dari keramaian dan tenang. Nilai positif lainnya adalah harganya yang cukup terjangkau serta bersihnya kamar dan seluruh bangunan.

Karena letaknya di Jalan Raya Batumulapan berhadapan langsung dengan Laut Bali, homestay ini memiliki pemandangan yang sangat indah. Kami banyak menghabiskan waktu duduk-duduk di teras sambil bercengkrama dan menikmati ketentraman suasana.

Ibu dan Bapak penjaga property ini juga sangat perhatian, kami selalu diingatkan untuk berhati-hati sebelum bepergian. Kadang kami juga mengobrol ketika waktunya pas. Selain itu, sarapannya juga enak. Si Ibu jago masak.

Mungkin bagi banyak orang kekurangan tempat ini adalah toilet dan kamar mandinya yang terpisah dari bangunan utama dan kamar. Kalau beseran, ini bisa dipertimbangkan. Akan tetapi, kami sama sekali tidak berkeberatan karena selama menginap di sana kami tidak pernah tunggu-tungguan kalau mau mandi atau ke belakang.

Pro tip: Jangan lupa booking dulu kalau mau menginap di pulau ini karena cukup banyak peminatnya. Kalau tidak pesan kamar sebelum ketibaan, bisa-bisa merepotkan diri sendiri. Dari Atuh ke homestay ada elub yang mengikuti kami sepanjang jalan. Kami sampai bertanya-tanya ada apa. Ternyata dia lagi mencari penginapan dan butuh info kamar. Begitu kami tiba di tempat kami menginap, dia juga berhenti dan akhirnya bertanya.

Pemandangan dari jendela kamar. Waktu menunjukkan pukul 3 sore tapi matahari sudah rendah.
Pemadangan dari teras.

Masih ada beberapa spot yang belum saya kunjungi di pulau ini. Mungkin nanti ketika berkunjung ke Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan, bisa sekalian mampir.

2 thoughts on “Cerita dari Nusa Penida, Pulau Cantik di Tenggara Tanah Seribu Pura

    1. Iya Mba, emang cantik banget. Semoga masyarakat sekitar dan pengunjung tetap jaga kebersihan dan selalu mindful aja 🙂 sama-sama, Mba.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.