Corona Si Gara-Gara, Gara-Gara Si Corona

Coronavirus (COVID-19). Keluarga virus yang santer dibicarakan khalayak ramai di segala penjuru dunia sejak awal dekade ini. 

Meskipun sudah lebih dua bulan ada, saya benar-benar nggak nyangka efeknya sampai sebegitunya di Jerman. Sebelumnya sih saya santai saja. Hanya lebih memperhatikan kebersihan pribadi (lebih rajin cuci tangan, dll) dan tetap baca berita untuk keep myself informed. Nggak panik.

Namun, tak bisa dipungkiri, si virus yang satu ini semakin lama sedikit banyak mempengaruhi kehidupan saya pribadi. Dan pengaruhnya dalam artian kurang baik ya…

***

Jadwal Konser Diundur

Tenang. Bukan konser saya kok yang diundur. Kalau saya pada vokal, kemungkinan penonton pada kabur!

Seharusnya kemarin saya dan seorang teman, sebut saja SMA, nonton konser duo pop alternatif asal London kesukaan kita. 

Kamis lalu kita sempat ngobrolin, apa kira-kira konsernya dibatalkan karena corona. Kalau sampai nggak dibatalkan, saya rasa tetap nggak bijaksana aja gitu kalau tetep kekeuh pergi ke tempat-tempat yang ramai. Keesokan harinya, saya terima email yang mengabarkan bahwa konsernya akan diundur ke waktu yang belum ditentukan. Untungnya tiket yang kita punya nggak hangus!

Teman Batal Berkunjung, Tiket ke Norwegia Terancam Hangus

Karena kakak dari teman dekat saya mau kawinan April nanti di Norwegia, saya berencana untuk ke sana juga. Ketemu teman saya ini dan sekalian nostalgia di Norwegia.

Saya sudah beli tiket pesawat Hamburg – Oslo PP, dan tiket kereta Oslo – Trondheim PP. Sudah dapat host juga di  Trondheim.

Eh, minggu lalu host saya mengabarkan bahwa dia nggak bisa nge-host saya karena corona. Teman saya juga memberitahukan bahwa kawinan kakaknya diundur dan karena itu dia memutuskan untuk batal berkunjung. Pun ini semua karena corona.

Selain itu, Norway juga sudah mengumumkan bahwa orang yang datang dari luar Nordic countries ke Norwegia harus dikarantina selama 14 hari dan Norway tidak menyarankan untuk travel for leisure within the Norwegian territory.

Nggak Bisa Nongkrong / Ketemuan Bareng Teman

Mulai hari ini, pemerintah Jerman menerapkan batasan-batasan yang sebelumnya tidak pernah ada. Pertokoan (kecuali apotek, supermarket dan drugstore) ditutup. Restoran dan kafe boleh buka sampai jam 6 sore, tapi bar dan tempat hiburan lainnya harus ditutup. Rakyat Jerman juga diharapkan untuk mengurangi kontak sosial. Jadi, corona parties di rumah juga nggak boleh.

Saya dan kolega di kantor sejak kemarin sudah menghentikan ritual makan siang bersama. BC pun menolak untuk bertemu teman-teman juga, meski tidak menolak untuk bertemu saya (who could resist me anyway hahaha!). Saya pun mengikuti saran dari pemerintah setempat untuk mengurangi kontak dengan orang lain, kalau memang tidak perlu.

Gagal Mengenalkan Aksara Batak

Museum Etnologi di Hamburg menjadwalkan besok untuk mengadakan pameran dan diskusi tentang Aksara Batak. Dan saya sangat excited untuk bisa melihat budaya saya dikenalkan di Jerman, dan kepada orang-orang terdekat saya saat ini, misalnya BC dan SMA.

Meski tak ada pengumuman bahwa acaranya dibatalkan, Museum Etnologi di Hamburg (sama seperti museum lainnya juga di Jerman) harus take a break, dalam rangka mengurangi dampak corona di negara ini. Seperti yang diminta oleh pemerintah.

Rotating Schedule to Work From Home

Mulai kemarin, kantor saya menerapkan policy yang namanya rotating schedule to work from home, yang membagi kami menjadi 3 kelompok. Grup 1A, orang-orang yang masuk kantor minggu ini, tapi work from home minggu depannya. Grup 1B, orang-orang yang work from home minggu ini, tapi masuk kantor minggu depan. Grup 2, orang-orang yang nggak bisa kerja full time karena mengurus anak dan harus work from home sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Saya masuk grup 1A, jadi saya kerja dari kantor minggu ini.

Karena banyaknya orang yang bekerja dari rumah, kadang jadi sulit berkomunikasi dengan kolega-kolega kantor. Apalagi kalau pas lagi urgent, terus sistemnya down, atau WiFi-nya mati seperti pagi hari ini. Sungguh bikin frustasi!

Fenomena Hamsterkauf

Jujur kalau soal urusan orang-orang yang sibuk panic buying, saya nggak begitu terpengaruh. Kalau di Jerman keadaan ini dikenal sebagai Hamsterkauf (karena seperti hamster yang menumpuk makanan di pipi), dan barang yang langka karena adanya situasi ini adalah tisu toilet dan tepung.

Kenapa Hamsterkauf ini sampai sekarang belum terlalu berdampak pada saya?

Pertama, saya percaya sama pemerintah Jerman yang bilang kalau supermarket nggak akan ditutup karena corona. Kedua, sebagai orang Indonesia saya bangga untuk menyatakan bahwa saya bisa bertahan hidup tanpa tisu toilet. Ketiga, saya nggak begitu bisa mengolah makanan dari tepung makanya nggak ngaruh-ngaruh amat kalo tepung nggak ada di toko-toko. Saya sih berharap jangan sampai ketersediaan beras yang menipis!

***

Kian hari kian banyak saja kasus corona dan angka kematian di dunia karena corona. Terlepas dari ketidaknyamanan dalam hidup karena corona dan upaya pemberantasannya, saya berharap, langkah-langkah yang diambil pemerintah di berbagai negara bisa segera berhasil untuk menuntaskan permasalahan terkait corona. Saya juga berharap orang-orang pun bisa turut aktif untuk mendukung program pemerintah terkait dengan corona.

Semoga kita semua tetap semangat untuk menjaga kesehatan dan kebersihan, ya! Stay safe!

2 thoughts on “Corona Si Gara-Gara, Gara-Gara Si Corona

  1. Di Sukabumi sekarang hari-hari menjadi sepi Mbak. Karena anak-anak sekolah diharuskan belajar di rumah dari 16 sd 29 Maret. Ada kemungkinan ditambah durasinya mengingat data positif corona kian meningkat. Beberapa instansi juga sudah menerapkan wfh. Hal ini setidaknya berimbas ke sopir angkutan kota, tukang ojek dan penjual makanan yang biasa berjualan di area sekolah.

    Saya baru tahu istilah “hamsterkauf” nih lewat postingan Mbak ini.

    Sehat selalu di Jerman ya Mbak.

    Salam dari saya di Sukabumi.

    Like

    1. Di Hamburg juga, Pak.

      Hari Jumat lalu, saya sengaja pergi ke pusat pertokoan di Hamburg. Baru jam 7 malam, rasanya seperti tengah malam. Bisa dihitung dengan jari jumlah orang yang berada di luar.

      Susah memang, Pak, kalau kita melihat keadaan di Indonesia terutama untuk orang-orang yang harus berada di luar rumah untuk mencari makan. Saya berharap pemerintah setidaknya mengambil langkah-langkah penting juga terhadap rakyat kecil.

      Kalau di sini kebetulan transportasi umum masih jalan. Restoran bisa buka untuk take away atau pick up. Kebetulan memang tidak ada tukang ojek atau pedagang makanan keliling, Pak, di sini.

      Karena keadaan sekarang ini memang tidak ada precedent-nya, pemerintah Jerman juga sedang membicarakan tentang bantuan langsung bagi mereka yang wiraswasta (self employed) atau usaha kecil yang mempekerjakan maksimal 10 orang pegawai.

      Sama-sama, Pak! Semoga kita sehat dan kuat.

      Salam dari saya di Hamburg.

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.