Pengalaman Co-Living di Jerman

Yang tinggal di kota besar di Jerman pasti tahu betapa sulitnya mencari tempat tinggal (Wohnung) di sini. Kenapa? Karena banyaknya peminat tidak berbanding lurus dengan ketersediaan. Layaknya di Indonesia, banyak orang ingin tinggal di kota besar karena kesempatan juga lebih besar.

Kota Hamburg dari atas bianglala. Hamburger DOM, April 2019. Dari kejauhan terlihat gedung-gedung dengan bata merah, bangunan dan apartemen khas bagian utara Jerman.

Keabsenan saya secara fisik membuat perkara mencari tempat tinggal di Hamburg menjadi hampir mustahil (waktu itu saya masih mahasiswa di Oslo). Selain itu, saya juga tidak bisa berbahasa Jerman jadi makin sulitlah untuk cari WG. 

Saya mencari kamar untuk ditinggali via online. Semua saya coba, mulai dari grup-grup di Facebook (contohnya Bursa Kamar PPI Hamburg) sampai platform jual beli di Jerman seperti ebay-kleinanzeigen. Karena masih mahasiswa, saya juga mengecek website dari NGO Studierendenwerk Hamburg yang menyediakan student residence di Hamburg.

Saya bahkan hampir mengurungkan niat untuk apply visa karena memang salah satu persyaratannya adalah bukti bahwa kita akan punya tempat tinggal di Jerman selama kita berada di sana. Tapi saya memutuskan untuk tidak patah semangat dan terus mencoba.

Kombinasi WG (Wohngemeinschaft) dan Airbnb

Akhirnya saya menemukan satu tempat tinggal di Uhlenhorst dan saya tinggal di sana selama lima bulan. Karena bagian Hamburg yang satu ini terkenal ditinggali oleh orang-orang yang berada, awalnya banyak orang di kantor saya yang mengira bahwa saya anak orang kaya. Little did they know that it was the only thing that I got

Saya menemukan apartemen ini dari WG-gesucht, website yang sudah terkenal untuk mencari WG (Wohngemeinschaft) di Jerman. 

Apa itu WG? 

Mirip tapi berbeda dengan ngekos. Ada beberapa orang tinggal di satu rumah (atau biasanya apartemen kalau di kota-kota besar Jerman). Bedanya, kalau ngekos ada bapak atau ibu kos dan teman-teman kos, kalau WG adanya cuma flatmates (Mitbewohner) saja. Salah satu atau seluruh anggota WG langsung menjadi pihak dalam perjanjian kontrak untuk menyewa apartemen ybs.

WG terdiri dari sedikitnya dua orang. Kadang satu WG isinya teman yang sudah kenal sejak lama. Tapi banyak juga orang yang tinggal satu WG yang tidak saling kenal sebelum “interview” alias WG-casting dan belum tentu akan berteman selama tinggal di WG tersebut.

Eh tapi kok ada interview-interview segala? Kayak nyari kerjaan aja… Iya. Ini karena orang-orang ingin memastikan bahwa mereka bisa co-living dengan orang lain. Yang ingin dipastikan lazimnya tergantung dengan jenis WG-nya.

Ada dua jenis WG. Yang pertama Zweck-WG (purpose WG, functional WG) yang artinya flatmates di WG ini hanya ingin share cost only dan tidak terlalu tertarik untuk berbagi (cerita) kehidupan atau beraktivitas bersama. Nah, kalau begini biasanya yang penting untuk mereka yang sudah tinggal di WG adalah si newcomer orangnya punya pekerjaan tetap apa nggak, mandiri atau nggak, dan kelihatan bisa bayar tepat waktu nggak. Bagi si pendatang baru misalnya , penting untuk melihat apa apartemennya bersih atau nggak, berisik atau nggak, orang-orang di sana kelihatan terpercaya atau nggak, dsb.

Jenis WG yang kedua adalah No-Zweck WG, kebalikan dari Zweck-WG. Tidak sekedar berbagi biaya tinggal, orang-orang yang ada di WG ini pun tertarik untuk saling mengenal dan memiliki hubungan baik satu sama lain. Kalau untuk WG jenis ini, banyak hal yang dipertimbangkan. Tidak hanya masalah keuangan, tapi juga apa pribadi orang-orangnya cocok atau tidak untuk tinggal di WG tersebut. Meski sering berkegiatan bareng, si pendatang baru tetap dituntut untuk mandiri dan tidak bergantung pada anak-anak WG yang lain di segala aspek.

Dari interview via WhatsApp call dan iklan di WG-gesucht untuk apartemen di Uhlenhorst itu, I learnt that the interviewer was supposed to be my WG-mate. Akan tetapi, saya akhirnya sadar bahwa orang tersebut adalah yang punya apartemen alias Bapak Kos! 

Kacaunya lagi, dua kamar lainnya yang ada di flat tersebut, digunakan untuk Airbnb. Jadilah saya merasa tidak nyaman karena setiap satu atau dua hari selalu ada orang baru. Dari pengalaman saya, orang-orang dari Airbnb ini juga banyak yang kurang considerate. Contohnya, setelah mereka menggunakan dapur, mereka biasanya tidak beberes dan meninggalkan dapur dalam keadaan berantakan. 

Di berbagai kota di Jerman, termasuk Hamburg, ada peraturan pembatasan penggunaan apartemen untuk Airbnb. Ada perasaan curiga bahwa si pemilik apartemen hanya ingin mengelakkan dirinya dari ketentuan yang berlaku terkait dengan Airbnb di Hamburg dengan cara mengizinkan saya untuk tinggal di sana.

Seakan masalah tinggal di tempat ini belum sempurna,  selama hampir dua bulan di awal musim gugur (September-Oktober) di 2018, heater di seluruh apartemennya mati! Karena apartemennya terletak di antara ground floor dan basement, tanpa heater jadinya dingin sekali. Akhirnya saya tidak tahan dan memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut.

Hausprojekt 

Dai pertengahan bulan ke-5 sampai pertengahan bulan ke-9 sejak saya pindah ke Hamburg, saya tinggal di Wilhelmsburg, a quarter in Hamburg which is situated in the biggest river island in Europe! Nah, selain tempatnya yang unik, konsep tempat tinggal saya di Willy-Town ini juga nggak kalah menarik. 

Hausprojekt, alias house project, merupakan suatu konsep hidup bersama secara solidaritas yang semakin banyak ditemukan di Jerman. Gaya hidup orang-orang di dalamnya alternatif. Harga per kamar juga biasanya lebih murah dari yang ada di pasaran. 

Dari dua nomor bangunan, terdapat 6 lantai (termasuk basement dan lantai dasar) apartemen yang ditinggali oleh 40 orang. Saya diberi kesempatan untuk tinggal di salah satu kamar sebagai Zwischenmiete alias penyewa untuk waktu terbatas, karena si penyewa utama kamar ada urusan selama 3-4 bulan di luar kota. 

Pengorganisasian soal logistik, selain diadakan secara keseluruhan Hausprojekt, juga diadakan per-lantai. Selain itu, orang-orang di dalamnya benar-benar berbagi bersama. Di lantai tempat saya tinggal, misalnya, kita setiap bulan urunan untuk beli bahan makanan dan peralatan kebersihan. Jumlahnya bebas tergantung kemampuan tapi minimal 50 Euro. Kalau misalnya kurang, di akhir tahun ada kalkulasi ulang.

Sayur-mayur dan buah-buahan dibeli dari organisasi petani lokal sehingga yang tersedia di apartemen biasanya tergantung musim. Semua makanan (kecuali ditandai milik pribadi) yang ada di dapur per-lantainya digunakan bersama. Tiap orang diperbolehkan nongkrong di dapur lantai lainnya. Acara masak dan makan bareng adalah hal yang biasa sehari-harinya.

Mesin-mesin cuci dan pengering ada di basement. Setiap orang di Hausprojekt bebas untuk menggunakannya. Namun setiap kali menggunakan, si pengguna dianjurkan untuk meletakkan 30 sen di tempat yang sudah disediakan. Uang yang dikumpulkan di ruang laundry ini nantinya akan digunakan untuk membeli deterjen untuk dipakai secara bersama. 

Selain itu, di lantai dasar ada bar/cafe dan ruangan olahraga yang terbuka untuk umum. Pengurus Hausprojekt kadang berkolaborasi dengan orang yang tinggal di sekitar untuk mengadakan events bersama di bar. Kelas yoga dan martial arts di ruang olahraga juga terbuka bagi siapapun yang ingin hadir.

Bar dan dekorasinya di Hause Project

Ada kesempatan untuk memperpanjang durasi tinggal di sana. Akan tetapi, saya akhirnya memutuskan sebaliknya. Tuntutan pekerjaan membuat saya sering pulang (larut) malam dan tidak bisa mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada. Saya jadi sedikit sungkan dan nggak-enak-an sama orang sekitar saya karena jarang di rumah.

Kombinasi Zweck-WG dan tinggal sendiri

Di pertengahan bulan ke-9, saya memutuskan untuk tinggal dengan seorang kenalan di daerah sekitar Bamberk-Nord. Saya dikenalkan dengan orang tersebut oleh seorang teman baik. 

Kebetulan si orang ini ditugaskan keluar kota dan hanya akhir minggu saja tinggal di Hamburg. Karena ingin menghemat dan tidak ingin melepaskan apartemen di Hamburg, akhirnya dia memutuskan untuk share apartemen dengan saya. 

Senin sampai Jumat saya tinggal sendiri. Sabtu Minggu tinggal bersama. Awalnya saya pikir kenapa tidak? Deal-nya terdengar oke. 

Yang jadi masalah adalah komunikasi kita yang kurang lancar, serta ketidakbiasaannya untuk berbagi tempat tinggal dengan orang yang bukan keluarga atau pasangan (dia baru pertama kali tinggal di WG). Saya jadi tidak betah dan memutuskan untuk tinggal sendiri karena saya pikir sudah cukup 11 tahun tinggal bersama dengan orang lain…

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita di atas adalah:

  1. Mencari tempat tinggal di kota-kota besar di Jerman (termasuk di Hamburg) susahnya setengah mampus, apalagi mencari tempat tinggal yang cocok.
  2. Dalam mencari tempat hidup bersama di Jerman, meskipun kesannya si interviewer has the upper hand and a stronger position dalam interview sebelum join WG, si interviewee juga bisa memutuskan dari hasil interview apakah cocok tinggal bersama orang yang sudah tinggal di WG tersebut, meskipun itu Zweck-WG.
  3. Hati-hati kena tipu waktu ketika mencari tempat tinggal. Meskipun sudah hati-hati namun masih saja kena tipu, cepat-cepat angkat kaki dan elus dada aja. Namanya manusia. Kadang khilaf.
  4. Selain cari online, andalkan juga kenalan. Beritahu semua orang yang kamu kenal di satu kota bahwa kamu mencari tempat tinggal baru.
  5. Jalin komunikasi yang baik dan lancar dengan orang yang tinggal bersama kita. Banyak masalah yang sebenarnya sepele, jadi ribet hanya karena orang menolak untuk bicara dan/atau mendengar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.