The Billys and Esse “The Traveler” Were in Sawarna Village

‘Kami gadis penantang ombak!’

Sebenarnya motto yang saya dan Esse, Iyo, serta Shari elu-elukan dalam petuangan menuju, di, dan dari Desa Sawarna, Kabupaten Lebak, Banten, 26-28 Oktober 2012 tersebut, agaknya kurang cocok. Kami lebih pantas disebut penantang mas-mas angkot, elf, dan ojeg yang kalo memasang harga suka kelewatan dengan alasan Idul Adha, hahahaha. Maklumlah, dari kami berempat, saya sendiri masih mencari pekerjaan, tiga lagi sisanya mahasiswa, dengan uang saku yang sering habis karena kebanyakan jalan dan main.

Kurang beruntung menumpang angkot dari Stasiun Rangkas Bitung menuju Terminal Mandala, yang seenaknya meminta kami membayar Rp 5.000 per orang karena Lebaran, kami lebih berhati-hati ketika ingin mencari transportasi menuju Bayah. Si supir elf yang akan berangkat, yang ternyata kontjo-nya supir angkot yang kami tumpangi, seenaknya memberi harga Rp 45.000 dengan posisi duduk di dalam elf akan seperti ikan rebus. No way babuji karoge! Kami pilih yang lain!

Kami pun berjalan menuju terminal. Ketika ada bus jurusan Rangkas – Cikotok yang ternyata melewati Bayah, kami langsung menawar Rp. 25.000, padahal abangnya mematok harga Rp. 45.000 awalnya. Mungkin si abang tersihir akan kecantikan kami, jadi dia setuju. Hahahaha.

Ternyata tidak berhenti di sana perjuangan kami, Saudara-Saudari! Mamang-mamang ojeg dari Bayah menuju Desa Sawarna membuka harga Rp 25.000 perorang, tapi dua orang sewa menaiki satu ojeg. Katakan tidak! Kami pura-pura menuju sebuah toko untuk membeli minuman sembari berdiskusi untuk mengambil langkah selanjutnya. Eh eh, ternyata si mamang ojeg ngikutin kita ke sana.

Keluar dari toko kami disambut dengan, ‘Jadi gimana, Neng? Mau nggak?’ Ya, kami tawar lagi. Kalau satu motor dua sewa, harganya Rp 30.000 saja. Kalau satu motor satu sewa, harganya Rp 20.000. Ehhh, mamangnya malah marah-marah sama saya. ‘Mas, gini. Kita ‘kan nawar. Kalau nggak cocok harganya, nggak apa-apa. Ntar saya cari ojeg yang lain. Nggak usah marah-marah!’ kata saya, berusaha untuk sabar. Bukannya ditanggapin dengan sabar balik, saya malah dimarahin lagi. Karena penawarannya tidak bertemu dengan permintaan saya, tak lama dia menyerah lalu angkat kaki.

Waktu sedang menunggu ojeg lainnya, ada beberapa bapak yang mendekati dan menanyakan mau harga berapa untuk ojegnya. Mereka menawarkan Rp 100.000 untuk empat ojeg, dan kita minta Rp 80.000. Mereka kekeuh, kita akhirnya melunak, minta Rp 90.000. Salah satu tukang ojegnya nantangin saya, ‘Harga Rp 22.500 ‘kan nanggung, Mba. Emangnya Mbanya punya gope’an?’ Kepadanya langsung saya tunjukkan empat koin yang kebetulan ada di kantong saya. Hahaha, kena dia!

Saya menyadari betul potensi Desa Sawarna yang baru-baru ini tenar di antara penikmat wisata membuat warganya benar-benar memanfaatkan segala kesempatan untuk menjghasilkan uang. Kalau mau menggunakan ojeg dari Pantai Ciantir menuju Pantai Tanjung Layar saja harus bayar Rp 20.000 pergi-pulang. Kalau menggunakan jasa guide dari warga setempat untuk mengunjungi goa dan pantai-pantai dikenakan biaya Rp 100.000.

Kami menggunakan kemampuan untuk bertanya dan berkomunikasi sebagai pendukung kami mengeksplorasi Desa Sawarna. Pagi-pagi sekali di hari kedua, kami sudah bangun untuk menjelang matahari terbit di Lagoon Pari. Setelah itu, kami menyusuri pantai dan melewati Pantai Tanjung Layar untuk kembali ke Pantai Ciantir. 

Siang hari yang dihiasi rintik-rintik kecil, kami berjalan tanpa guide menuju Goa Lalay. Ibu pemilik homestay sudah membekali kami dengan lampu berbaterai untuk digunakan menerangi perjalanan di goa. Ketika kami menanyakan arah kepada masyarakat lokal, langsung ada tawaran mau di-guide atau tidak. Bahkan lebih dari itu, anak-anak kecil pun sudah timbul jiwa mencari keuntungannya. Ketika kami menanyakan arah kepada segerombolan anak-anak yang lalu berujung mereka mengiring-iringi kami dan berusaha menjelaskan apa saja yang akan kami lihat di sana nantinya. ‘Ada udang, ikan, dan kepiting, Kak!’ ‘Nanti sandalnya dilepas ya, Kak, soalnya goanya berlumpur. Licin kalau pakai sandal, Kak!’ Kami langsung insecure dan beberapa kali berusaha mengusir mereka dengan menanyakan, ‘Kalian mau ngapain?’ namun tidak dapat mereka tangkap maknanya. Ketika berada di mulut goa, anak-anak tersebut hendak mengikuti kami tapi kami mengatakan, ‘Kalian pulang saja. Kami bisa sendiri!’ Kode-kodean tidak bisa dimengerti, Saudara, jadi kami tembak langsung saja. Mereka langsung bubar jalan. 

Kami menghabiskan sisa sore hingga matahari kembali ke peraduannya di Pantai Ciantir, bermain ombak dan membiarkan kaki kami dijilati buih dan kulit kami diciumi pasir. Dalam perjalanan pulang menuju penginapan, saya berbincang dengan seorang pria berkebangsaan Canada. Mereka mengendarai mobil dari Jakarta. Keengganan saya untuk menanyakan apakah kami boleh menumpang untuk kembali ke Jakarta, sampai sekarang sangat saya sesali. Hahahaha. Waktu itu saya sok-sok kode-kodean! Saya lupa kalau bule itu tidak mengerti basa-basi.

Kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke Depok dengan melewati Pelabuhan Ratu menggunakan bus, karena kami takut ketinggalan kereta terakhir yang berangkat dari St. Rangkas Bitung sekitar pukul empat sore. Dengan menggunakan ojeg, kami menuju Cibayawak dan akan menunggu bus menuju Pelabuhan Ratu di sana.

Di sana, Esse sempat curhat kepada tukang ojeg yang ia tumpangi. Ia menyesalkan mengapa harga di sana sangat mahal. Si tukang ojeg yang mungkin merasa agak bersalah akhirnya menjanjikan akan menunggui kami sampai kami mendapatkan bus. Bus yang kami tunggu-tunggu tak kunjung muncul.

Kami pun memutuskan untuk nekat mencegat mobil. Pertama kali kami mencoba, seorang bapak paruh baya yang mengendarai sebuah Toyota Rush dan mengaku sedang menuju Pelabuhan Ratu akhirnya mempersilahkan kami untuk menumpang mobilnya.

Tukang ojeg yang saya tumpangi sebelumnya mungkin waswas lalu menghampiri kami dan bertanya, ‘Emangnya kenal, Neng?’ dan saya jawab, ‘Tidak, Pak. Tapi nggak apa-apa!

Sebenarnya di dalam perjalanan, ada sedikit kekhawatiran, karena bagaimana pun si bapak pemilik mobil ini bisa saja menipu kami lalu menjual kami ke mucikari yang akhirnya membuat kami masuk dalam daftar orang hilang di koran dan televisi beberapa hari lagi. Namun Tuhan maha baik. Kami diantarkan si bapak, yang juga lupa saya tanyakan namanya, ke terminal dan dari sana kami menaiki Bus MGI menuju Bogor, lalu naik KRL ke Depok.

Mungkin benar kata Muel, seorang kenalan kami di Desa Sawarna, kami adalah mamak-mamak tukang tawar! Keterbatasan dana tentu saja tidak bisa mengurangi suka cita 🙂 Dengan dana yang minim, kami bisa menikmati indahnya Desa Sawarna dan pantai-pantai di sana, bahkan berinteraksi dan mengamati langsung bagaimana warga setempat hidup. 

Homestay Elsa, tempat kami menginap dengan harga Rp 110.000 per malam. Ibu pemiliknya sangat ramah dan masakannya enak 🙂 Recommended banget (y)

Pantai Ciantir hari pertama kami tiba di sana. Mendung. Berangin.

Main lari-lari di Lagoon Pari, Sabtu pagi hari. Pantainya indah 🙂

Esse dan peliharaan barunya, hewan tanpa tulang belakang, mirip dengan bintang laut tapi lebih menggelikan.

Waktu menyusuri pantai dari Pantai Lagoon Pari menuju Pantai Tanjung Layar, banyak karang dengan air yang dangkal, sehingga kita bisa melihat banyak bulu babi dan terumbu karang. Sebenarnya banyak juga ikan kecil dan kepiting, tapi sayangnya sulit ditangkap kamera.

Karang Taraje. Terletak di antara Lagoon Pari dan Tanjung Layar, ombaknya sangat tinggi dan pecah di karang, sehingga air lautnya terlihat seperti air terjun.

Tanjung Layar yang merupakan ikon dari Desa Sawarna. Kami hanya menikmatinya dari kejauhan sambil menyantap kelapa muda karena sudah kelelahan berjalan dari Lagoon Pari. Itulah mengapa gambarnya tidak begitu bagus. *alasan* Bebatuan seperti ini mengingatkan saya tentang Cappadocia, Turkey.

Di mulut Goa Lalay, kami meminta pengunjung lainnya untuk mengambil foto kami berempat. Eh, rekan-rekan dari si pengambil foto malah ikutan foto juga. Di dalam goa, kami sempat mematikan lampu, menikmati kegelapan yang sebenarnya sambil berpegangan tangan.

Cuaca mendadak cerah di hari Minggu, that’s why it’s called Sunday! Akan tetapi kami harus pergi kembali menjalani hari sebagai (mantan) mahasiswi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.