Trekking in Baduy; An Adventure to Culture and Nature

image

Memiliki pengalaman bermalam di desa yang sangat melestarikan adat adalah suatu hal yang tidak biasa bagi saya. Mereka menunjung tinggi peribahasa, “Kayu yang panjang tidak boleh dikurangi, kayu yang pendek tidak boleh ditambahi” yang berarti apa yang ada haruslah tetap demikian, tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi. Saya merasakannya di Desa Cibeo, salah satu kampung tempat di mana suku Baduy dalam bermukim. Pada tanggal 22-23 September 2012 yang lalu, saya dan teman-teman saya, Tian, Ewin, dan Ochie, bersama dengan teman-teman dari Komunitas Kompas Khatulistiwa (K3) melakukan satu perjalanan dengan tajuk Trekking in Baduy; An Adventure to Culture and Nature.

Kami menggunakan transportasi kereta dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung yang memakan waktu kurang lebih dua setengah jam. Setelah tiba di stasiun tujuan, kami bertolak ke Cijahe dengan menggunakan elf, sejenis mini bus. Perjalanannya terasa tidak begitu menyenangkan karena cuaca yang terik sehingga waktu yang hanya kurang lebih dua setengah jam terasa sangat panjang bagi saya. Saya sempat merasa mual karena pada saat itu saya duduk di barisan paling belakang.

Setibanya di Cijahe, kami singgah ke salah satu warung untuk menikmati santap siang kami berupa mie instan dengan telor. Setelah itu, ada briefing singkat dari teman-teman K3 juga perkenalan dengan Kang Nalim, pria berusia 51 tahun dari suku Baduy dalam dan juga Mulyono, yang akrab dipanggil Mul, anak muda dari suku Baduy luar yang akan menjadi guide kami dalam petualangan ini.

Ketika matahari benar-benar menunjukkan keangkuhannya, kami mulai berjalan kaki menuju Desa Cibeo. Kontur tanah yang kami lalui tidak selalu rata, kadang menanjak dan kadang menurun. Pemandangannya tidak begitu menarik karena banyak lahan kosong yang tampaknya baru dibuka untuk dijadikan ladang. Selain itu tanah di sana juga merupakan tanah kuning, yang menurut teman saya Ochie yang adalah mahasiswa Ilmu Pertanahan-Insititut Pertanian Bogor, adalah jenis tanah yang miskin. Hal tersebut menjawab mengapa tumbuhan dan tanaman selama perjalanan kami tidak terlihat rimbun.

Selama berada di daerah perkampungan Baduy luar, kami masih diperbolehkan untuk mengambil foto atau mengaktifkan telepon seluler. Akan tetapi, sinyal juga tidak sampai ke sana sehingga sia-sia saja melakukannya. Begitu sampai di perbatasan antara desa suku Baduy dalam dan Baduy luar yang ditandai dengan jembatan bambu di atas sungai, segala perangkat elektronik tidak diperkenankan lagi untuk menyala. Itulah mengapa sepulangnya dari perjalanan ini saya tidak banyak membawa oleh-oleh berupa gambar.

Kami berjalan kaki selama kurang lebih empat jam. Beban yang tidak begitu berat dan juga sandal gunung yang saya gunakan sedikit banyak mempermudah perjalanan ini. Kami akhirnya tiba di suatu desa yang menurut saya sepi yang menurut saya agak tidak sesuai dengan pendapat Rizky, founder K3, bahwa terdapat sekitar 40 rumah di desa Cibeo.

Kami dibagi menjadi dua kelompok besar, di mana para wanita akan menginap di rumah Kang Malim, dan yang pria akan menginap di rumah adiknya Kang Nalim. Sebelum kami memasuki rumah, kami diberitahu untuk menghindari dua area, yaitu hutan terlarang-yang akhirnya kami ketahui pada malam diskusi bahwa di sana terdapat tujuh mata air yang harus dilindungi, juga rumah puun, yang merupakan kepala adat. Kami menghabiskan sore di sungai yang tidak begitu deras. Bagi kebanyakan peserta yang berasal dari Jakarta, pengalaman mandi di sungai tampaknya menarik.

Setelah hari mulai gelap kami pun kembali ke rumah untuk makan malam yang akan dilanjutkan dengan diskusi dengan tuan rumah di mana kami diberikan kesempatan untuk menanyakan apapun yang ingin kami ketahui tentang Baduy. Sesi ini bagi saya sangat menarik, karena tidak sedikit pertanyaan yang menggelitik. Oleh karena di sana tidak terdapat toilet, kami harus ke sungai untuk buang air dengan menggunakan senter sebagai penerang. Sesudah itu beberapa orang memilih untuk menghabiskan malam sambil berbincang-bincang di luar, meskipun saat itu sedang turun hujan. Saya dan teman-teman memilih untuk tidur dalam kegelapan mengingat perjalan besok tidaklah singkat.

Malam terasa sangat dingin karena angin masuk dari lubang-lubang pada semua sisi rumah. Kami tidur di atas tikar pandan dan terbangun pagi sekali karena alarm smart-phone milik salah seorang anggota tim yang mungkin lupa untuk mematikannya sebelumnya.

Setelah sarapan dan berpamitan kepada tuan rumah, kami pun melanjutkan perjalanan kami menuju pedesaan Baduy luar. Sekitar lima jam berjalan kaki dengan keadaan perjalanan yang jauh lebih sulit dari hari kemarinnya, sangat tidaklah mudah bagi saya. Ditambah lagi pada saat itu saya menemukan bahwa saya sedang kedatangan tamu bulanan. Banyak jalanan mendaki yang harus kami lewati dan minimnya pemandangan yang indah membuat motivasi saya untuk melanjutkan perjalanan seringkali menurun. Ada beberapa titik di mana saya menemukan pemandangan yang bagus, namun tidak mungkin untuk saya abadikan.

Menurut Ochie yang adalah anggota pecinta alam di kampusnya, ini adalah perjalanan di hutan dan pegunungan yang terbaik dalam hidupnya. Kami sangat sering berhenti dan bersitirahat dan bisa meminum air sebanyak yang kami mau. Sekali kami berhenti di rumah penduduk suku Baduy luar untuk meminta air minum, kali lainnya kami berhenti untuk membeli air di warung. Setibanya di rumah Mul, kami menikmati makan siang. Di sana kami singgah agak lama sehingga banyak yang menyempatkan diri untuk tidur siang, mandi, bermain gundu, bahkan minum es cincau. Di permukiman suku Baduy luar, suasana terasa lebih hidup karena banyak terlihat anak yang bermain dan juga wanita muda yang sedang menenun kain tradisional mereka.

Lewat tengah hari kami melanjutkan perjalanan menuju Desa Ciboleger, yang dari sana kami akan menyewa elf lagi untuk kembali ke Stasiun Rangkas Bitung. Perjalanan ini tidak memakan waktu begitu lama, hanya sekitar satu setengah jam berjalan kaki. Akan tetapi, begitu dimulai saja kami harus mendaki melewati jalan setapak yang berbatu. Selain itu, kami juga melalui “Tanjakan Cinta”, guide kami juga tidak begitu paham akan nama ini, yang sungguh luar biasa panjang dan membuat lelah. Paru-paru saya hampir meledak saat itu. Sampai akhirnya, Tiar, teman dari K3, menawarkan untuk membawakan tas saya. Pada saat itu isi tas saya disusun kurang rapi sehingga memberatkan. Setelah tas saya berpindah tangan, saya bahkan bisa berlari dan bergerak dengan lincahnya. Setibanya di Ciboleger, kami semua merasa hidup kembali karena terdapat satu mini market berwarna merah di mana setiap orang langsung membeli minuman dingin.

Di Stasiun Tanah Abang di mana kami semua awalnya bertemu, di sana jugalah kami berpisah. Semua orang membawa pulang cerita baru dari Baduy.

Salah satu hal yang saya pelajari dari perjalanan ini adalah jangan percaya pada pendaki gunung. Mereka bilang tujuan sudah dekat padahal tidak. Mereka akan mengatakan sepuluh menit lagi untuk waktu perjalanan yang masih akan ditempuh selama sejam lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.